Tutorial

Tick Size, Lot Size, dan Min Notional: Kenapa Order Crypto Bisa Ditolak

Banyak order crypto gagal bukan karena aplikasi error, tetapi karena harga, kuantitas, atau nilai order tidak sesuai aturan pair yang diperdagangkan.

Ahmad KamalSarjana Teknik Elektro, gamer aktif, dan pengamat esports yang mengikuti persilangan industri game dengan blockchain
17 Juli 2026Dicek oleh Tim Redaksi 17 Juli 20266 menit baca
Bagikan:
Tampilan order book dan form order pada exchange kripto

Banyak pengguna mengira semua order crypto itu sederhana: masukkan harga, masukkan jumlah, lalu klik beli atau jual. Ketika order ditolak, penyebabnya sering dianggap aplikasi error, saldo kurang jelas, atau exchange sedang bermasalah. Padahal dalam banyak kasus, masalahnya jauh lebih teknis dan jauh lebih biasa: angka yang kamu masukkan tidak lolos aturan pair.

Tiga istilah yang paling sering menjadi sumber kebingungan adalah tick size, lot size, dan min notional. Ketiganya terdengar seperti detail backend, tetapi justru sangat menentukan apakah order akan diterima, ditolak, atau hanya terisi sebagian. Buat pengguna Indonesia yang aktif memakai order book, memahami tiga istilah ini bisa mengurangi banyak trial-and-error yang mahal.

Kenapa Exchange Memasang Aturan Ini

Exchange tidak bisa membiarkan setiap order masuk dengan harga dan kuantitas seacak mungkin. Mesin pencocokan order perlu aturan granularity agar order book tetap rapi, risiko pasar terkendali, dan eksekusi bisa diproses konsisten.

Dokumentasi Binance dan Bybit menunjukkan bahwa setiap pair atau kontrak bisa punya filter berbeda untuk:

  • kenaikan harga minimum;
  • kelipatan ukuran order;
  • nilai minimum order;
  • batas ukuran market order dan limit order;
  • parameter tambahan seperti price bands atau batas posisi.

Jadi, aturan yang berlaku di BTC/USDT belum tentu sama dengan altcoin kecil, stablecoin pair, atau kontrak derivatif.

Apa Itu Tick Size

Bybit menjelaskan tick size sebagai kenaikan atau penurunan harga terkecil yang diperbolehkan. Kalau tick size BTCUSDT adalah 0,1 maka harga harus bergerak dengan langkah 0,1, bukan angka bebas.

Secara praktis:

  • harga 68,592.1 valid;
  • harga 68,592.2 valid;
  • harga 68,592.15 bisa tidak valid jika tidak sesuai kelipatan tick size.

Di dokumentasi Binance, aturan ini muncul dalam PRICE_FILTER dengan komponen seperti minPrice, maxPrice, dan tickSize.

Artinya, order bisa ditolak walaupun saldo cukup dan pair benar, hanya karena angka harga yang kamu input tidak cocok dengan langkah harga yang diizinkan.

Apa Itu Lot Size

Kalau tick size mengatur langkah harga, maka lot size mengatur langkah jumlah aset.

Binance menjelaskan LOT_SIZE sebagai aturan kuantitas dengan tiga bagian utama:

  • minQty;
  • maxQty;
  • stepSize.

Misalnya sebuah pair hanya mengizinkan kuantitas dalam kelipatan 0.001. Maka:

  • 0.005 valid;
  • 0.006 valid;
  • 0.0065 bisa ditolak.

Ini sebabnya pengguna kadang heran: "Saya punya saldo cukup, kenapa beli 0,00037 BTC gagal?" Jawabannya bisa jadi karena kuantitas itu tidak memenuhi stepSize atau berada di bawah batas minimum pair tersebut.

Apa Itu Min Notional

Min notional adalah nilai minimum order, yaitu hasil perkalian harga x kuantitas yang harus melewati ambang tertentu.

Dalam dokumentasi Binance, MIN_NOTIONAL berarti order hanya lolos jika nilai totalnya memenuhi batas minimum pair. Untuk market order, referensi harga yang dipakai bisa berupa rata-rata harga periode tertentu atau last price, tergantung implementasi platform.

Contoh sederhana:

  • kamu ingin beli aset seharga 0,20 USDT;
  • jumlahnya 10 token;
  • total notional baru 2 USDT;
  • kalau pair mensyaratkan minimum 5 atau 10 USDT, order akan ditolak.

Jadi meskipun harga dan kuantitas masing-masing valid, kombinasi keduanya bisa tetap gagal.

Kenapa Order Valid Tetap Bisa Terisi Sebagian

Ini bagian yang berbeda dari filter. Kadang order diterima, tetapi hanya terisi sebagian.

Coinbase Help menjelaskan bahwa market order dapat terisi pada beberapa harga berbeda, dan Coinbase Learn menambahkan bahwa limit order juga bisa terisi sebagian ketika tidak ada cukup likuiditas pada harga yang kamu minta.

Artinya ada dua situasi yang perlu dibedakan:

1. Order ditolak

Biasanya terkait aturan seperti:

  • tick size salah;
  • qty tidak sesuai step size;
  • nilai order di bawah minimum;
  • order melanggar batas harga atau batas ukuran pasar.

2. Order diterima tetapi tidak penuh

Biasanya terkait kondisi pasar:

  • likuiditas di harga itu tidak cukup;
  • market order menyapu beberapa level harga;
  • limit order menunggu lawan transaksi datang;
  • sisa order masih terbuka di order book.

Kalau dua situasi ini tidak dibedakan, pengguna sering salah diagnosis.

Post-Only, Market Order, dan Kenapa Fee Bisa Berubah

Order yang sama bisa menghasilkan biaya berbeda tergantung bagaimana ia berinteraksi dengan order book.

Coinbase Help menjelaskan bahwa post only akan menolak order bila ada bagian yang langsung tereksekusi saat masuk ke matching engine. Tujuannya agar order benar-benar masuk buku order dan berpeluang dikenai maker fee, bukan taker fee.

Implikasinya:

  • limit order biasa bisa langsung match sebagian lalu sisa tinggal di book;
  • bagian yang langsung match bisa terkena taker fee;
  • sisa yang menunggu bisa later dikenai maker fee bila akhirnya terisi.

Jadi, order book bukan hanya soal arah harga. Ia juga memengaruhi status order, fee, dan apakah ordermu masuk sebagai penambah atau pengambil likuiditas.

Cara Praktis Menghindari Error Order

Sebelum kirim order, biasakan cek lima hal ini:

1. Lihat detail pair atau contract

Banyak platform menampilkan aturan pair di halaman symbol info, contract details, atau API docs publik. Cari:

  • tick size;
  • minimum quantity;
  • minimum order amount;
  • maximum market order;
  • maximum limit order.

2. Bulatkan harga dan kuantitas sesuai kelipatan

Kalau pair hanya menerima kelipatan tertentu, jangan memaksa angka terlalu presisi.

3. Sisakan ruang untuk fee

Kadang order yang tampak "pas" di saldo bisa gagal kalau saldo quote asset tidak cukup setelah memperhitungkan fee.

4. Bedakan target nominal dengan format order

Kamu mungkin ingin eksposur Rp 1 juta, tetapi pair mungkin hanya menerima ukuran tertentu. Jadi niat ekonomi dan format teknis order tidak selalu sama persis.

5. Setelah order masuk, cek statusnya

Coinbase Learn menunjukkan bahwa pengguna perlu memantau % filled, status open, dan sisa order yang belum terisi. Jangan langsung anggap gagal hanya karena hasilnya belum penuh dalam satu detik.

Contoh Kesalahan yang Sangat Umum

Memasang harga yang terlalu presisi

Kamu ingin beli di 0.1234567, tetapi pair hanya mendukung langkah 0.0001. Order ditolak.

Memasang jumlah yang tidak sesuai stepSize

Kamu ingin beli 12.34567 token, padahal pair hanya mendukung kelipatan 0.1 atau 1.

Nilai order terlalu kecil

Kamu coba pakai sisa saldo kecil untuk pair tertentu, tetapi nilainya berada di bawah min notional.

Menganggap partial fill adalah bug

Padahal order sah, hanya saja likuiditas di harga tersebut tidak cukup untuk menutup seluruh ukuranmu sekaligus.

Konteks Indonesia: Legalitas Platform dan Aturan Pair Adalah Dua Hal Berbeda

OJK menekankan agar masyarakat hanya bertransaksi melalui entitas dan kanal resmi yang tercantum dalam whitelist. Ini penting untuk legalitas dan perlindungan dasar.

Tetapi bahkan saat kamu memakai platform yang legal, aturan pair tetap berlaku. Legalitas platform tidak menghapus:

  • filter harga;
  • filter kuantitas;
  • minimum order value;
  • batas ukuran market order;
  • risiko partial fill di pasar yang tipis.

Jadi ada dua lapisan yang harus dipahami sekaligus:

  1. apakah platformnya legal dan kanalnya resmi;
  2. apakah order spesifikmu sesuai aturan teknis pair itu.

Checklist Cepat Sebelum Klik Buy atau Sell

Kalau kamu sering order ditolak, cek urutan ini:

  • apakah harga sesuai tick size;
  • apakah jumlah sesuai step size;
  • apakah nilai total lolos min notional;
  • apakah saldo masih cukup setelah fee;
  • apakah order yang valid justru hanya menunggu likuiditas.

Kesimpulan

Tick size, lot size, dan min notional adalah fondasi mekanis order book. Mereka mungkin terlihat remeh, tetapi justru sering menjadi penyebab utama order gagal. Memahami ketiganya akan membuatmu lebih cepat membedakan mana masalah teknis pair, mana masalah likuiditas pasar, dan mana masalah platform.

Kalau kamu ingin trading lebih disiplin, jangan hanya belajar prediksi arah harga. Belajar juga bahasa mesin order book. Di situlah banyak kesalahan mahal sebenarnya terjadi.

Lanjutkan dengan membaca market order vs limit order untuk pemula, maker fee vs taker fee crypto, dan cara baca order book depth crypto.

Disclaimer

Artikel ini bersifat edukatif dan bukan ajakan untuk memakai platform atau jenis perdagangan tertentu. Aturan pair, biaya, dan fitur order dapat berbeda antar-platform dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Sumber

  1. Binance Spot API Docs - Filters(akses 17 Jul 2026)
  2. Binance Developer Docs - Spot REST API General(akses 17 Jul 2026)
  3. Bybit Help Center - Futures Trading Rules(akses 17 Jul 2026)
  4. Bybit API Docs - Get Instruments Info(akses 17 Jul 2026)
  5. Coinbase Help - Understanding the order types(akses 17 Jul 2026)
  6. Coinbase Learn - How to manage orders on Coinbase(akses 17 Jul 2026)
  7. OJK - Whitelist Penyelenggara Perdagangan Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto Berizin(akses 17 Jul 2026)
Disclosure

Artikel ini bersifat edukatif dan bukan ajakan untuk memakai platform atau jenis perdagangan tertentu. Aturan pair, biaya, dan fitur order dapat berbeda antar-platform dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Disclaimer

Konten ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan rekomendasi investasi. Aset kripto memiliki risiko tinggi termasuk kerugian total modal. Lakukan riset mandiri dan konsultasikan dengan penasihat keuangan terdaftar sebelum mengambil keputusan investasi.

Bermanfaat? Bantu sebarkan:
Bagikan:
Penulis
Ahmad Kamal

Sarjana Teknik Elektro, gamer aktif, dan pengamat esports yang mengikuti persilangan industri game dengan blockchain. Fokusnya adalah GameFi, kepemilikan aset digital, NFT gaming, ekonomi dalam game, serta risiko token dan model play-to-earn bagi pemain.