Stablecoin
Cryptocurrency yang dipatok ke aset stabil (umumnya USD) seperti USDT, USDC, DAI.
Penjelasan
Sobat Kripto, stablecoin dirancang mempertahankan nilai stabil terhadap fiat. Tiga jenis utama: fiat-backed (USDT, USDC dijamin cadangan dolar), crypto-backed (DAI dijamin ETH over-collateralized), dan algorithmic (UST sudah kolaps Mei 2022, kebanyakan praktisi hindari). Berfungsi sebagai trading pair, safe haven, dan unit DeFi.
Tiga Jenis Mekanisme
Fiat-backed (USDT, USDC): cadangan dolar di bank 1:1. Paling simpel, paling banyak dipakai. Risiko: trust ke issuer. Crypto-backed (DAI): dijamin crypto over-collateralization. Desentralisasi tinggi tapi rumit. Algorithmic (UST yang sudah kolaps): tanpa cadangan, harga dijaga algoritma. Terbukti gagal di stress test besar.
USDT vs USDC vs DAI
USDT (Tether) paling likuid dengan banyak trading pair. USDC (Circle) lebih ramah regulator dengan audit reguler, pernah depeg ke 0,87 dolar Maret 2023 saat krisis Silicon Valley Bank. DAI (MakerDAO) paling desentralisasi dengan governance via token MKR. Sobat Kripto sebaiknya diversifikasi antar issuer.
Use Case
Trading pair stablecoin (BTC/USDT) lebih likuid dari pair IDR di exchange global. Hedging saat market crash. Yield di Aave atau Compound dengan APY 3-10 persen. Cross-border remittance dengan fee jauh lebih rendah dari Western Union. Untuk Indonesia ada IDRT (Rupiah Token) di blockchain meski adopsi masih terbatas.