Analisis

FTX dan Celsius Collapse 2022: Pelajaran untuk Investor

Timeline FTX November 2022 dan Celsius Juli 2022: red flag yang seharusnya terlihat, dan prinsip not your keys not your coins.

Ihsan HarahapFounder beritakripto
20 Mei 20265 menit baca
Bagikan:
Palu hakim dan dokumen hukum di atas meja kayu

Dua kebangkrutan terbesar di sejarah crypto terjadi dalam tahun yang sama: Celsius Network bangkrut Juli 2022, FTX runtuh November 2022. Investor ritel di kedua platform kehilangan miliaran dolar, dengan banyak yang masih menunggu pengembalian dana lewat proses kebangkrutan. Lebih dari sekadar cerita kegagalan, dua kasus ini meninggalkan pelajaran konkret tentang red flag yang seharusnya terlihat lebih awal - dan kenapa prinsip "not your keys, not your coins" jadi mantra setelah 2022.

Artikel ini merekonstruksi timeline kedua kasus, mengidentifikasi sinyal peringatan yang ada sebelum collapse, dan menarik pelajaran praktis untuk investor crypto Indonesia.

Timeline Celsius (Juli 2022)

Celsius Network adalah platform crypto lending yang menawarkan yield tinggi sampai 18% APY untuk deposit stablecoin dan crypto. Pada puncaknya, Celsius klaim mengelola lebih dari $20 miliar AUM.

Timeline collapse:

  • Mei 2022: TerraUSD/Luna kolaps - Celsius punya eksposur signifikan ke staked ETH (stETH) dan posisi DeFi yang ikut tertekan
  • 6 Juni 2022: Mulai muncul rumor likuiditas masalah, withdrawal request meningkat
  • 12 Juni 2022: Celsius pause semua withdrawal, swap, dan transfer - dana nasabah terkunci
  • 13 Juli 2022: Celsius filing Chapter 11 bankruptcy di pengadilan AS
  • Juli 2023: SEC menggugat Celsius dan CEO Alex Mashinsky atas tuduhan penipuan
  • 2023-2024: Proses pengembalian dana via plan reorganisasi, dengan haircut signifikan untuk depositor

Timeline FTX (November 2022)

FTX adalah exchange crypto terbesar kedua secara volume sebelum collapse, dengan valuasi puncak $32 miliar. CEO Sam Bankman-Fried (SBF) jadi figur publik di industri.

Timeline:

  • 2 November 2022: CoinDesk publish artikel tentang balance sheet Alameda Research (trading firm SBF) - mengungkap eksposur besar ke token FTT (token native FTX)
  • 6 November 2022: Changpeng Zhao (CZ, CEO Binance) tweet bahwa Binance akan jual semua FTT yang dimiliki
  • 7-8 November 2022: Run on FTX - withdrawal request melonjak. FTX tidak bisa memproses
  • 8 November 2022: SBF setuju Binance akuisisi FTX. Sehari kemudian, Binance batalkan setelah due diligence
  • 11 November 2022: FTX filing Chapter 11 bankruptcy. SBF mundur sebagai CEO
  • 12 November 2022: Lebih dari $400 juta crypto "hilang" dari FTX wallet - kemungkinan hack atau insider exfiltration
  • 12 Desember 2022: SBF ditangkap di Bahama
  • 2 November 2023: SBF dinyatakan bersalah oleh juri atas tujuh dakwaan termasuk wire fraud
  • 28 Maret 2024: SBF divonis 25 tahun penjara

Red Flag Celsius yang Seharusnya Terlihat

Beberapa sinyal sudah ada sebelum kolapsnya:

1. Yield Tidak Masuk Akal

18% APY untuk deposit stablecoin adalah anomali statistik. Di pasar capital tradisional, yield setinggi itu hanya tersedia di high-yield bond dengan risiko default tinggi. Pertanyaan "darimana yield-nya?" jarang dijawab secara transparan.

2. Tidak Ada Audit Independen Terbuka

Celsius tidak punya audit keuangan independen yang dipublikasi publik. Klaim AUM hanya dari press release internal, tidak terverifikasi.

3. CEO Mashinsky Klaim Berani

Alex Mashinsky publik menyatakan "Celsius lebih aman dari bank" di berbagai wawancara dan AMA - klaim yang struktural tidak masuk akal karena Celsius tidak punya asuransi simpanan seperti FDIC.

4. Eksposur DeFi yang Tidak Disclosed

Belakangan terungkap Celsius punya posisi besar di Anchor Protocol (Terra) dan stETH leveraged - eksposur yang harus disclosed ke depositor tapi tidak dilakukan.

Red Flag FTX yang Seharusnya Terlihat

1. Hubungan FTX-Alameda yang Tidak Transparan

Alameda Research (trading firm SBF) dan FTX (exchange SBF) seharusnya entitas terpisah dengan firewall ketat. Tapi balance sheet Alameda heavily dipegang FTT - token yang FTX sendiri ciptakan. Self-referential collateral seperti ini structural risk yang besar.

2. Token FTT sebagai "Aset" di Balance Sheet

FTT dipakai Alameda sebagai collateral untuk pinjaman. Tapi FTT illiquid - kalau Alameda jual, harga FTT turun, valuasi collateral turun, butuh tambah collateral, dan seterusnya. Klasik death spiral.

3. Customer Funds Allegedly Mixed dengan Alameda

Per DOJ filings, dana customer FTX diduga digunakan untuk membiayai operasi dan investasi Alameda - pelanggaran terms of service dan basis pidana fraud.

4. SBF Pengaruh Politik dan PR

SBF habiskan banyak resources untuk lobi politik dan citra publik (donasi ke kampanye politik, foto dengan tokoh-tokoh terkenal). Disconnect antara persona PR dan operasi internal yang chaotic adalah pola yang sering muncul di kasus fraud.

Pelajaran: Not Your Keys, Not Your Coins

Prinsip ini sudah ada sejak awal Bitcoin tapi jadi mantra setelah 2022. Maknanya: kalau crypto disimpan di exchange atau custodian pihak ketiga, kamu tidak punya kontrol atas dana itu - hanya klaim hukum terhadap entitas tersebut.

Saat exchange/custodian collapse:

  • Dana terkunci selama proses bankruptcy (bertahun-tahun)
  • Pengembalian biasanya partial dengan haircut signifikan
  • Klaim diukur dalam USD pada tanggal bankruptcy, bukan harga current
  • Investor jadi unsecured creditor dengan prioritas rendah

Implikasi untuk Investor Indonesia

Untuk investor crypto Indonesia, pelajaran 2022 punya beberapa aksi konkret:

  1. Pisahkan exchange custody dari long-term storage: pakai exchange untuk trading aktif, transfer holdings jangka panjang ke wallet self-custody (hardware wallet)
  2. Diversifikasi exchange: jangan tumpuk semua di satu exchange, sekalipun yang besar
  3. Pakai exchange terdaftar Bappebti: bukan jaminan tapi minimal ada pengawasan regulator dan jalur recourse legal
  4. Skeptis yield tinggi: lending platform yang menawarkan double-digit APY untuk stablecoin biasanya punya risiko struktural yang tidak transparan
  5. Verifikasi proof of reserves: post-FTX, banyak exchange mulai publikasi proof of reserves. Yang tidak mau publish patut dicurigai

Risiko Masih Ada

Walau 2022 jadi pembelajaran besar, struktur custody pihak ketiga tetap berisiko. Bahkan exchange dengan proof of reserves tidak immune dari kasus liability mismatch atau fraud internal. Hardware wallet self-custody punya risiko sendiri - lost seed phrase, fishing attack, atau kesalahan pengguna.

Kesimpulan

Kolapsnya FTX dan Celsius bukan kecelakaan - keduanya punya struktur dan red flag yang teridentifikasi sebelum kejadian, tapi investor banyak yang abai karena yield tinggi atau kepercayaan pada figur publik. Pelajaran utama: due diligence pada platform yang menyimpan dana adalah tanggung jawab investor. Untuk holdings jangka panjang, prinsip "not your keys, not your coins" tetap relevan - dan menjadi default behavior banyak investor crypto sophisticated sejak 2022.

Advertisement336 × 280 · Medium Rectangle

Sumber

  1. US DOJ - United States v. Samuel Bankman-Fried(akses 20 Mei 2026)
  2. SEC Charges FTX Founder Sam Bankman-Fried(akses 20 Mei 2026)
  3. Wikipedia - Bankruptcy of FTX(akses 20 Mei 2026)
  4. Wikipedia - Celsius Network(akses 20 Mei 2026)
Disclosure

Penulis tidak punya posisi di FTT atau token CEL pada periode collapse.

Disclaimer

Konten ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan rekomendasi investasi. Aset kripto memiliki risiko tinggi termasuk kerugian total modal. Lakukan riset mandiri dan konsultasikan dengan penasihat keuangan terdaftar sebelum mengambil keputusan investasi.

Bermanfaat? Bantu sebarkan:
Bagikan:
Penulis
Ihsan Harahap

Founder beritakripto.id. Menulis seputar crypto, blockchain, dan regulasi di Indonesia.