Analisis

Ondo Finance: Treasury Bills RWA Onchain

Membawa surat utang pemerintah AS ke blockchain dengan struktur hukum yang berusaha menjawab kekhawatiran regulator. Ondo Finance jadi salah satu pemain RWA paling matang.

Tim RedaksiTim editorial beritakripto
20 Mei 20264 menit baca
Bagikan:
Dokumen finansial dan grafik

Selama bertahun-tahun, DeFi menjanjikan akses ke instrumen keuangan dunia nyata yang terbuka, transparan, dan tanpa perantara. Janji itu sering kandas di benturan dengan regulasi. Surat utang pemerintah Amerika Serikat, salah satu instrumen finansial paling likuid di dunia, tidak bisa begitu saja dijual lewat smart contract tanpa melanggar hukum sekuritas di berbagai yurisdiksi.

Ondo Finance, didirikan pada 2021 oleh dua alumni Goldman Sachs, mengambil pendekatan berbeda. Alih-alih melawan regulasi, ia membangun struktur hukum yang taat regulasi dulu, baru kemudian membungkusnya dalam token blockchain. Hasilnya: salah satu protokol RWA paling matang yang sudah mengelola dana institusional dalam jumlah signifikan.

Apa yang Ditokenisasi

Ondo menerbitkan dua produk utama yang merepresentasikan surat utang pemerintah AS. OUSG (Ondo Short-Term US Government Bond Fund) memberikan eksposur ke surat utang jangka pendek pemerintah AS, dengan struktur yang ditujukan untuk investor institusional dan accredited investor. USDY (Ondo US Dollar Yield Token) adalah versi yang lebih terbuka, didukung oleh portofolio surat utang dan deposito bank dengan rating tinggi, ditujukan untuk pengguna non-AS termasuk pasar Asia dan Amerika Latin.

Perbedaan keduanya mencerminkan kompleksitas regulasi. OUSG hanya tersedia bagi pihak yang sudah lolos KYC dan memenuhi syarat sebagai accredited investor di Amerika. USDY tersedia lebih luas tapi dengan pembatasan geografis dan compliance yang tetap ketat.

Yield yang dihasilkan token ini berasal dari bunga surat utang riil yang dipegang struktur hukum di balik token, biasanya sekitar selisih dengan suku bunga Federal Reserve. Pada periode tinggi-bunga 2023 hingga 2025, yield ini menjadi kompetitor langsung untuk yield DeFi yang tidak dijamin aset riil.

Struktur Hukum sebagai Inovasi

Tokenisasi RWA terkesan teknis, tapi tantangan utamanya adalah hukum, bukan teknologi. Bagaimana memastikan pemegang token punya hak hukum yang sah atas aset di belakangnya? Bagaimana melindungi aset jika operator token bangkrut?

Ondo menjawabnya lewat struktur bankruptcy-remote SPV (Special Purpose Vehicle). Aset yang menjadi backing token dipegang oleh entitas hukum terpisah yang secara legal terisolasi dari operasi Ondo. Jika Ondo sebagai perusahaan mengalami masalah, aset tetap aman karena tidak masuk ke pool aset Ondo yang bisa diklaim kreditor.

Pendekatan ini bukan unik, tapi eksekusi yang ketat dengan custodian institusional dan audit reguler memberikan tingkat kepercayaan yang membuat institusi tradisional bersedia masuk. Salah satu indikator kematangan adalah komposisi pemegang token Ondo, yang mencakup beberapa nama besar di crypto institutional.

Use Case di Ekosistem DeFi

Token RWA seperti USDY dan OUSG punya tiga peran yang sedang berkembang dalam DeFi.

Sebagai collateral berkualitas tinggi, USDY mulai diterima sebagai jaminan di beberapa protokol lending. Stabilitas surat utang pemerintah AS membuat USDY lebih tahan terhadap volatilitas dibanding collateral crypto-native seperti ETH atau wBTC. Bagi peminjam yang ingin akses likuiditas tanpa risiko likuidasi besar, USDY adalah alternatif menarik.

Sebagai komponen treasury DAO, banyak DAO yang menyimpan dana dalam stablecoin tradisional mulai mempertimbangkan menempatkan sebagian di USDY untuk mendapatkan yield surat utang sambil tetap likuid. Treasury yang sebelumnya hanya dapat 0 persen yield di USDC bisa mendapat beberapa persen lewat USDY tanpa kompromi keamanan signifikan.

Sebagai bridge antara TradFi dan DeFi, RWA Ondo menjadi pintu masuk yang lebih familiar untuk dana institusional yang ingin masuk crypto tapi tidak nyaman dengan volatilitas. Tokenisasi surat utang AS terasa lebih akrab daripada yield farming, karena instrumennya sama dengan yang sudah lama mereka pegang.

Risiko yang Berbeda dari DeFi Tradisional

Risiko Ondo bukan risiko smart contract eksploit atau impermanent loss seperti DeFi tradisional. Risikonya adalah kategori lain yang justru sering terlewat oleh pengguna DeFi yang sudah biasa.

Risiko regulasi adalah yang utama. Status hukum token RWA berubah-ubah di berbagai yurisdiksi. Di Amerika, SEC bisa sewaktu-waktu mengambil sikap baru terhadap token yang dianggap sekuritas. Di Indonesia, status token RWA semacam USDY belum tegas diatur, dan listing di exchange lokal masih terbatas.

Risiko counterparty di custodian. Surat utang yang menjadi backing dipegang oleh custodian institusional, bukan oleh smart contract on-chain. Jika custodian mengalami masalah operasional atau hukum, akses ke aset bisa terganggu meskipun token tetap ada di blockchain.

Risiko transferability dan likuiditas. Karena pembatasan compliance, USDY dan OUSG tidak bebas dikirim ke sembarang alamat. Sistem whitelisting membatasi kepada siapa kamu bisa transfer. Likuiditas di DEX terbuka pun terbatas dibanding stablecoin biasa.

Posisi Ondo dalam Tren RWA

Tokenisasi surat utang dan instrumen finansial tradisional menjadi salah satu tema dominan crypto pada 2024 dan 2025. BlackRock meluncurkan BUIDL, Franklin Templeton dengan BENJI, dan banyak pemain lain mengikuti.

Posisi Ondo dalam lanskap ini adalah perintis yang sudah punya track record. Sebelum BlackRock masuk, USDY dan OUSG sudah dipakai sebagai building block oleh protokol DeFi lain. Ondo membuktikan bahwa model bankruptcy-remote SPV plus token blockchain bisa berjalan dengan compliance yang ketat.

Bagaimana posisi Ondo bertahan ketika pemain seperti BlackRock dengan sumber daya jauh lebih besar masuk, masih harus dilihat. Strategi Ondo adalah mendalami integrasi DeFi-native dan mengejar pasar non-Amerika lewat USDY, di mana pemain TradFi besar lebih lambat bergerak.

Kesimpulan

Ondo Finance bukan DeFi yang anarkis. Ia adalah jembatan antara dunia regulasi keuangan tradisional dan infrastruktur blockchain, dirancang dari awal untuk hidup dengan aturan, bukan menghindarinya.

Untuk pengguna Indonesia yang tertarik mengeksplor RWA, USDY menawarkan eksposur ke surat utang AS yang sebelumnya nyaris tidak mungkin diakses individu dengan modal kecil. Tapi keterbatasan compliance, status hukum yang belum tegas di banyak yurisdiksi, dan ketergantungan pada custodian institusional artinya RWA bukan replacement untuk stablecoin biasa, melainkan instrumen baru dengan profil risiko sendiri yang harus dipahami sebelum dipakai.

Advertisement336 × 280 · Medium Rectangle

Sumber

  1. Ondo Finance - Official Site(akses 20 Mei 2026)
  2. Ondo Finance - Documentation(akses 20 Mei 2026)
  3. DefiLlama - Ondo Finance(akses 20 Mei 2026)
Disclaimer

Konten ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan rekomendasi investasi. Aset kripto memiliki risiko tinggi termasuk kerugian total modal. Lakukan riset mandiri dan konsultasikan dengan penasihat keuangan terdaftar sebelum mengambil keputusan investasi.

Bermanfaat? Bantu sebarkan:
Bagikan:
Penulis
Tim Redaksi

Tim editorial beritakripto.id meliput berita dan tren crypto di Indonesia.